
Ini salah satu ironi transfer musim panas 2026: performa Liam Delap di Chelsea jauh dari ekspektasi, tapi banderol jualnya justru dipatok tinggi, bahkan sempat disebut naik hingga £50 juta.
Hanya mencetak satu gol dari 28 penampilan di Premier League sepanjang 1.601 menit bermain, plus tujuh kartu kuning. Musim debutnya di Stamford Bridge juga terganggu cedera hamstring sejak laga melawan Fulham di Agustus 2025.
Lalu kenapa Chelsea justru berani memasang harga jual mendekati £40-50 juta? Ada beberapa faktor yang menjelaskan strategi ini.
Liam Delap sendiri bahkan dijuluki “Lord” karena harganya yang mahal tak sebanding dengan performanya. Banyak peluang emas yang harusnya jadi gol, namun gagal dikonversi oleh Delap. Akun Instagram Liam Delap sering menjadi tempat hujatan karena performanya yang buruk.
Beberapa klub Inggris seperti Newcastle United, Leeds United, dan Everton dikabarkan tertarik merekut Delap. Namun, banderol 50 Juta Pounds dari Chelsea tentu sangat mahal dengan performa di atas.
Baca Juga : Alasan Zion Suzuki Jadi Pilihan Menarik di FPL Gameweek 1 Bersam Aston Villa
Situasi ini menggambarkan bagaimana nilai transfer pemain di sepak bola modern tidak melulu ditentukan oleh statistik gol semata, tapi juga faktor usia, kebangsaan (striker Inggris biasanya premium di pasar Inggris sendiri), sisa kontrak, dan kebutuhan klub untuk merampingkan skuad.
Fenomena ini punya nama sendiri di dunia sepak bola: “English tax” atau “homegrown premium” dan penyebabnya bukan cuma soal kualitas pemain, tapi lebih ke aturan dan struktur pasar transfer itu sendiri.