
Kevin Diks, pemain Borussia Moenchengladbach yang memiliki ikatan emosional dan profesional yang kuat dengan Indonesia, pilihan antara nasi dan roti bukan sekadar soal rasa, melainkan soal efisiensi energi dan kecocokan biologis.
Debat mengenai pola makan atlet sering kali berujung pada pilihan sumber karbohidrat. Terutama bagi pemain seperti Kevin Diks.
Bagi seorang pemain belakang yang harus berlari menempuh jarak rata-rata 10-12 km per pertandingan, asupan energi harus bersifat berkelanjutan. Nasi, terutama nasi putih atau merah, menyediakan glukosa yang mudah diserap tubuh untuk diubah menjadi glikogen otot.
Kevin Diks, yang memiliki darah keturunan Maluku, tentu tidak asing dengan pola makan berbasis nasi. Secara psikologis, mengonsumsi makanan yang sesuai dengan “lidah asal” dapat meningkatkan mood dan kenyamanan mental seorang atlet. Di kamp pelatihan Timnas Indonesia, nasi adalah menu wajib yang disiapkan dengan standar gizi tinggi.
Banyak atlet mulai menghindari roti karena kandungan glutennya yang bagi sebagian orang dapat menyebabkan perut kembung atau rasa tidak nyaman saat beraktivitas berat. Nasi secara alami bebas gluten (gluten-free), menjadikannya pilihan yang lebih aman untuk sistem pencernaan sebelum pertandingan intensitas tinggi. Dengan pencernaan yang ringan, Kevin Diks dapat melakukan sprint dan intersep tanpa gangguan metabolisme.
Meskipun roti adalah makanan pokok di Eropa tempat ia berkarir, nasi menawarkan keunggulan fungsional bagi atlet dengan jadwal padat.
Kombinasi nasi dengan protein berkualitas (seperti ayam atau ikan) adalah formula rahasia di balik stamina kuda yang ditunjukkan Kevin Diks saat mengawal lini pertahanan.
Bagi Kevin Diks, nasi bukan sekadar makanan; itu adalah bahan bakar utama untuk performa maksimal. DNA Indonesia Kevin Diks membuatnya lebih nyaman mengonsumsi nasi daripada makanan berbahan dasar tepung seperti roti.