
Konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina tidak hanya menimbulkan korban di kalangan warga sipil, tetapi juga berdampak pada dunia olahraga.
Sejumlah pemain sepak bola Palestina dilaporkan tewas dalam berbagai insiden militer, khususnya sejak meningkatnya eskalasi konflik di Jalur Gaza pada tahun 2023. Banyak dari mereka adalah atlet profesional maupun pemain muda yang sedang meniti karier di lapangan hijau.
Situasi ini mendapat perhatian dari berbagai organisasi olahraga internasional, termasuk FIFA dan Asosiasi Sepak Bola Palestina, karena perang telah mengganggu aktivitas olahraga serta menyebabkan hilangnya sejumlah talenta sepak bola dari wilayah tersebut.
1. Suleiman Obeid
Suleiman Obeid dikenal sebagai salah satu legenda sepak bola Palestina dan pernah memperkuat tim nasional. Ia dijuluki “Pele dari Palestina” karena kemampuan mencetak golnya yang luar biasa. Obeid dilaporkan tewas di Gaza pada 2025 ketika berada di area distribusi bantuan kemanusiaan. Kepergiannya menjadi duka besar bagi komunitas sepak bola Palestina.
2. Rashid Dabour
Rashid Dabour merupakan pemain klub lokal Al-Ahly Beit Hanoun dan pernah membela tim nasional Palestina. Ia dilaporkan meninggal pada Oktober 2023 akibat serangan udara di Gaza yang juga menewaskan beberapa anggota keluarganya.
3. Omar Abu Qatin
Omar Abu Qatin adalah pemain klub Turmus Ayya di Tepi Barat. Ia dilaporkan tewas pada Juni 2023 setelah ditembak saat terjadi bentrokan dengan pasukan Israel. Peristiwa tersebut menambah panjang daftar atlet Palestina yang kehilangan nyawa di tengah konflik.
4. Islam Nafeth Matar
Islam Nafeth Matar dikenal sebagai pemain klub Al-Aqsa di Gaza. Ia dilaporkan tewas ketika berada di lokasi distribusi bantuan kemanusiaan selama perang berlangsung.
5. Mo’men Ziyad Alouwa
Mo’men Ziyad Alouwa merupakan pemain klub Al-Shujaiya. Ia dilaporkan meninggal akibat serangan udara yang menghantam wilayah tempat tinggalnya di Gaza.
6. Mohammed Ramez Al‑Sultan
Mohammed Ramez Al-Sultan adalah pemain muda dari akademi klub Al-Hilal Gaza. Ia tewas bersama beberapa anggota keluarganya ketika rumah mereka terkena serangan udara.
Perang yang terjadi di Gaza tidak hanya menyebabkan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan fasilitas olahraga, stadion, serta akademi sepak bola. Banyak klub lokal terpaksa menghentikan aktivitas mereka karena situasi keamanan yang tidak memungkinkan untuk menggelar pertandingan atau latihan.
Menurut laporan berbagai organisasi olahraga, ratusan atlet Palestina dari berbagai cabang olahraga, termasuk sepak bola telah menjadi korban sejak meningkatnya konflik pada 2023. Kondisi ini membuat perkembangan sepak bola di Palestina mengalami kemunduran signifikan.
Komunitas sepak bola internasional berharap agar olahraga dapat menjadi jembatan perdamaian. Banyak pihak mendesak agar fasilitas olahraga dan atlet dilindungi selama konflik bersenjata berlangsung.
Kisah para pemain yang meninggal ini menjadi pengingat bahwa konflik tidak hanya mempengaruhi politik dan keamanan, tetapi juga menghentikan mimpi para atlet muda yang ingin mengharumkan nama negaranya di panggung internasional. Sepak bola, yang seharusnya menjadi simbol persatuan dan harapan, turut merasakan dampak tragis dari konflik yang masih berlangsung hingga kini.