
Batas terdekat Amerika Serikat dengan Rusia sebenarnya sangatlah sempit, yakni hanya sekitar 3,8 kilometer di Selat Bering. Titik ini memisahkan Pulau Diomede Besar (Rusia) dan Pulau Diomede Kecil (AS).
Sementara itu, jarak antara daratan utama Alaska dengan Rusia adalah sekitar 88 kilometer. Di sisi lain, jarak terdekat AS dengan Korea Utara (melalui Guam atau Alaska) berkisar antara 5.000 hingga 9.000 kilometer.
Ketegangan geopolitik saat ini memicu kekhawatiran: apa jadinya jika rudal Iran ditempatkan di wilayah Rusia atau Korea Utara?
Secara teknis, sebagian besar rudal balistik Iran seperti keluarga Shahab atau Khorramshahr memiliki jangkauan operasional antara 2.000 hingga 3.000 kilometer. Jika rudal-rudal ini tetap berada di wilayah Iran, mereka tidak bisa menjangkau daratan Amerika Serikat (CONUS).
Namun, skenario berubah jika terjadi kerja sama militer di mana teknologi atau peluncur rudal Iran ditempatkan di Rusia Timur (dekat Alaska) atau di Korea Utara.

Jika rudal jarak menengah Iran ditempatkan di Rusia timur, mereka secara teori dapat mengancam pangkalan militer AS di Alaska.
Namun, ancaman yang lebih nyata adalah transfer teknologi. Dengan bantuan Rusia atau Korea Utara yang sudah memiliki teknologi Intercontinental Ballistic Missile (ICBM), rudal Iran dapat dimodifikasi untuk memiliki jangkauan di atas 10.000 kilometer, yang cukup untuk menjangkau Washington D.C. atau New York. Sinergi antara “Trio Teheran-Moskow-Pyongyang” inilah yang menjadi fokus utama intelijen Barat saat ini.