
Musim 2025/2026 menjadi periode yang penuh aib bagi Real Madrid setelah disingkirkan Bayern Muenchen di perempat final UCL. Klub dengan sejarah panjang sebagai penguasa Eropa ini gagal memenuhi ekspektasi tinggi publik.
Setelah era Carlo Ancelotti berakhir, kursi kepelatihan sempat diisi oleh Xabi Alonso sebelum akhirnya digantikan oleh Álvaro Arbeloa pada pertengahan musim yang belum memberi efek positif.
Salah satu akar masalah terbesar adalah ketidakstabilan di kursi pelatih. Perubahan dari Xabi Alonso ke Álvaro Arbeloa membuat filosofi permainan berubah secara mendadak.
Para pemain harus beradaptasi ulang dengan sistem baru dalam waktu singkat. Hal ini berdampak langsung pada performa tim di lapangan yang terlihat kurang solid dan minim konsistensi, terutama saat menghadapi pertandingan penting.
Nama-nama besar seperti Vinícius Júnior, Jude Bellingham, hingga Kylian Mbappé tidak mampu tampil stabil sepanjang musim.
Pada beberapa laga mereka mampu menunjukkan kualitas kelas dunia, namun di pertandingan krusial justru gagal memberikan kontribusi maksimal. Inkonsistensi ini membuat Real Madrid kehilangan banyak poin penting dalam perburuan gelar.
Cedera kembali menjadi masalah serius bagi Real Madrid. Beberapa pemain kunci seperti Thibaut Courtois, Rodrygo Goes, dan Éder Militão harus absen dalam waktu yang cukup lama.
Absennya pemain inti membuat keseimbangan tim terganggu. Lini pertahanan menjadi rapuh dan rotasi pemain yang terlalu sering justru membuat chemistry tim sulit terbentuk.
Sebagai pelatih yang relatif baru di level tertinggi, Álvaro Arbeloa masih dalam tahap pembuktian. Ia memiliki pemahaman kuat tentang klub, tetapi dari sisi taktik masih membutuhkan pengembangan.
Dalam beberapa pertandingan, Real Madrid terlihat kesulitan menghadapi tim dengan organisasi permainan yang baik. Kurangnya variasi strategi membuat permainan Madrid mudah dibaca oleh lawan.
Real Madrid saat ini berada dalam fase transisi generasi. Peran pemain senior seperti Luka Modrić dan Toni Kroos semakin berkurang, sementara pemain muda belum sepenuhnya siap menggantikan peran tersebut.
Ketidakseimbangan antara pengalaman dan energi muda membuat lini tengah kerap kehilangan kontrol permainan, terutama saat menghadapi tim dengan intensitas tinggi.
Kegagalan Real Madrid di musim 2025/2026 merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari pergantian pelatih, inkonsistensi pemain, badai cedera, taktik yang belum matang, hingga proses regenerasi yang belum selesai.
Jika ingin kembali ke jalur juara, Real Madrid perlu melakukan evaluasi menyeluruh. Stabilitas tim, peningkatan kualitas taktik, serta kedalaman skuad menjadi kunci untuk bangkit di musim berikutnya.