
Kegagalan Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026 memicu gelombang kemarahan yang tidak hanya datang dari suporter, tetapi juga dari jajaran pemerintahan hingga parlemen. Isu ini bahkan berujung pada pemanggilan resmi para pejabat sepak bola ke sidang Majelis Nasional Korea Selatan.
Korea Selatan tergabung di Grup A Piala Dunia 2026 bersama tuan rumah Meksiko, Afrika Selatan, dan Republik Ceko, komposisi grup yang sejak awal dianggap relatif ramah bagi Taeguk Warriors. Skuad asuhan Hong Myung-bo bahkan membuka turnamen dengan kemenangan atas Republik Ceko.
Namun performa mereka merosot drastis setelah itu, menelan kekalahan beruntun dari Meksiko dan Afrika Selatan. Dengan hanya mengumpulkan tiga poin dari tiga laga, Korea Selatan gagal lolos ke babak 32 besar meski memiliki bintang sekelas Son Heung-min.
Kekecewaan publik memuncak setelah Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, secara terbuka menyampaikan kemarahannya melalui media sosial tak lama setelah laga terakhir yang berakhir dengan kekalahan dari Afrika Selatan. Lee menyebut kegagalan ini bukan sekadar hasil buruk di lapangan, melainkan cermin dari sistem yang bermasalah. Ia bahkan meminta Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap manajemen sepak bola nasional.
Baca Juga : Pengaruh Non-Teknis : Jarak Hotel Timnas Indonesia vs Vietnam ke Stadion Pakansari
Sehari setelah tim tersingkir, Hong Myung-bo, legenda yang pernah membawa Korea Selatan ke semifinal Piala Dunia 2002, mengundurkan diri dari kursi pelatih. Tak lama berselang, Chung Mong-gyu yang telah menjabat sebagai Presiden Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) selama 13 tahun juga mundur dari jabatannya. Namun pengunduran diri keduanya dinilai belum cukup untuk meredakan kemarahan publik dan politisi.
Pada akhir Juli 2026, Komite Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Majelis Nasional Korea Selatan, yang dipimpin oleh anggota parlemen Lee Jae-jung, menggelar sidang untuk mencecar para pihak yang dianggap bertanggung jawab. Chung Mong-gyu dan Hong Myung-bo dipanggil sebagai saksi, bersama sejumlah tokoh sepak bola lain seperti Park Hang-seo dan Park Ji-sung.
Beberapa poin utama yang membuat parlemen sangat marah antara lain:
Salah satu anggota parlemen dari Partai Demokrat, Song Young-gil, bahkan menyebut KFA sebagai “musuh terbesar sepak bola Korea”, mencerminkan betapa dalamnya rasa frustrasi terhadap tata kelola federasi.
Kemarahan parlemen ini menunjukkan bahwa isu kegagalan Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026 telah melebar menjadi persoalan tata kelola olahraga nasional. Publik dan politisi menuntut reformasi struktural di tubuh KFA, bukan hanya evaluasi taktik atau performa pemain di lapangan.
Kegagalan Korea Selatan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026 memicu efek domino: kemarahan presiden, pengunduran diri pelatih dan ketua federasi, hingga sidang dengar keterangan di parlemen. Kasus ini menjadi bukti bahwa di Korea Selatan, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan juga isu kebanggaan nasional yang menyeret tanggung jawab politik dan kelembagaan.