
Boaz Solossa pada masa puncak kariernya sangat layak masuk starting XI Timnas Indonesia era John Herdman. Kemampuan menggiring bola, kecepatan mengambil keputusan, kreativitas, dan ketajamannya di depan gawang membuat legenda Persipura Jayapura tersebut memiliki modal untuk bersaing dengan penyerang Timnas Indonesia pada 2026.
Namun, ada satu hal yang perlu dibedakan. Boaz Solossa yang dibahas dalam artikel ini adalah versi terbaiknya, terutama ketika menjadi pemain kunci Timnas Indonesia di Piala AFF 2004 dan 2016, bukan kondisi fisiknya saat ini.
Lantas, jika Boaz pada masa jayanya dimainkan bersama Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, dan pemain-pemain menyerang lainnya, apakah ia akan langsung menjadi pilihan utama?
Boaz Solossa merupakan salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Lahir di Sorong pada 16 Maret 1986, ia membangun reputasi besar bersama Persipura Jayapura dan Timnas Indonesia.
Menurut profil yang diterbitkan Kita Garuda pada Februari 2026, Boaz mencatatkan 48 penampilan resmi bersama Timnas Indonesia dengan 14 gol internasional. Ia juga menjadi figur penting ketika Indonesia mencapai final Piala AFF 2004 dan 2016.
Pada Piala AFF 2016, Boaz menjadi kapten sekaligus salah satu tumpuan utama serangan Indonesia. Ia mencetak tiga gol dan satu assist dalam tujuh penampilan menurut catatan Kita Garuda.
Keunggulan Boaz bukan hanya soal jumlah gol. Ia memiliki kontrol bola yang baik, mampu melewati lawan dalam situasi satu lawan satu, serta mempunyai kemampuan mengirim umpan yang berbahaya.
Karakter tersebut membuat Boaz berbeda dari penyerang yang hanya menunggu umpan di kotak penalti. Ia bisa menjemput bola, membuka ruang, dan menciptakan peluang melalui inisiatif sendiri.
Dalam komposisi seperti itu, Boaz pada masa jayanya tidak akan kesulitan menemukan posisi yang sesuai. Ia bisa dimainkan sebagai penyerang sayap yang bergerak ke tengah atau penyerang kedua yang berada di belakang striker utama.
Jika harus memilih posisi yang paling cocok untuk Boaz, penyerang sayap yang bergerak ke tengah menjadi salah satu pilihan terbaik.
Ragnar Oratmangoen dikenal memiliki mobilitas tinggi dan mampu membantu membangun serangan. Ia juga bisa bergerak ke ruang kosong untuk mendukung penyerang tengah.
Boaz pada masa jayanya mempunyai karakter yang mirip dalam hal kebebasan bergerak, tetapi ia juga sangat berbahaya ketika mendapat kesempatan menghadapi bek lawan secara langsung.
Kemampuan menggiring bola Boaz dapat memberikan keuntungan ketika Indonesia menghadapi tim yang bertahan rapat. Ia bisa memancing bek keluar dari posisinya, melewati lawan, atau menciptakan peluang melalui kombinasi pendek.
Dalam skenario ini, Boaz akan bersaing dengan Ragnar untuk memperebutkan salah satu posisi penyerang sayap.
Persaingan dengan Ole Romeny akan lebih menarik karena keduanya memiliki keunggulan berbeda.
Ole bisa berperan sebagai penyerang tengah maupun pemain depan yang bergerak mencari ruang. Sementara itu, Boaz lebih dikenal sebagai penyerang yang mengandalkan kreativitas, kelincahan, dan kemampuan menciptakan peluang dari situasi individual.
Jika Herdman ingin memainkan penyerang tengah yang menjadi sasaran umpan di kotak penalti, Ole bisa lebih cocok untuk peran tersebut.
Sebaliknya, jika Indonesia membutuhkan penyerang yang aktif turun menjemput bola, menghubungkan lini tengah dengan lini depan, dan mengacaukan pertahanan lawan melalui dribel, Boaz bisa menjadi pilihan menarik.
Keduanya bahkan berpotensi bermain bersama. Boaz dapat ditempatkan sebagai penyerang sayap atau penyerang kedua, sementara Ole menjadi pemain yang lebih dekat dengan gawang.
Kombinasi tersebut berpotensi membuat serangan Indonesia lebih bervariasi. Akan tetapi, efektivitasnya tetap bergantung pada keseimbangan tim dan kecocokan dengan strategi yang diterapkan.
Baca Juga : Gol Bunuh Diri Mursyid Effendi di Piala Tiger 1998, Takut Ketemu Vietnam atau Pengaturan Skor?
Salah satu persoalan yang sering dihadapi tim nasional adalah kesulitan membongkar pertahanan lawan yang bermain dengan blok rendah.
Ketika lawan menumpuk banyak pemain di sekitar kotak penalti, umpan silang dan serangan dari tengah terkadang mudah dipatahkan.
Pada situasi seperti ini, kemampuan individual menjadi sangat penting. Pemain yang mampu melewati satu atau dua lawan bisa menciptakan ruang yang sebelumnya tidak tersedia.
Boaz pada masa jayanya mempunyai kemampuan tersebut. Ia bisa menyerang dari sisi lapangan, menusuk ke tengah, atau memberikan umpan kepada rekan yang memiliki posisi lebih baik.
Keunggulan lainnya adalah kemampuannya mengambil keputusan di area berbahaya. Boaz tidak selalu harus menyelesaikan serangan sendiri karena ia juga mampu memberikan umpan yang membuka peluang bagi pemain lain.
Dalam pertandingan melawan lawan yang bertahan rapat, kualitas tersebut berpotensi menjadikannya pilihan utama Herdman.
Jika Boaz Solossa versi terbaiknya bisa bermain untuk Timnas Indonesia pada 2026, ia sangat layak dimainkan sebagai starter.
Kemampuan menggiring bola, kreativitas, pengalaman internasional, dan ketajamannya di depan gawang memberikan kualitas yang dibutuhkan lini serang Indonesia.
Dalam formasi 3-4-3, Boaz berpotensi bersaing dengan Ragnar Oratmangoen untuk posisi penyerang sayap. Ia juga bisa bermain lebih dekat dengan Ole Romeny untuk membentuk kombinasi dua penyerang yang saling melengkapi.