
Ceuta kembali menjadi sorotan dunia setelah gelombang besar imigran dari Maroko dan sejumlah negara Afrika lainnya nekat menyeberang ke wilayah kantong (eksklave) milik Spanyol ini akhir Juli 2026, dengan puluhan orang dilaporkan tewas dalam upaya penyeberangan tersebut.
Namun di balik krisis kemanusiaan yang berulang kali terjadi, Ceuta menyimpan sejarah panjang sebagai wilayah rebutan berbagai bangsa selama berabad-abad.
Selama beberapa dekade terakhir, Ceuta dan Melilla dikenal luas sebagai gerbang paling populer bagi para migran gelap dari Afrika Utara maupun Afrika sub-Sahara yang ingin masuk ke wilayah Uni Eropa. Ada beberapa faktor utama yang membuat kota kecil ini terus menjadi titik favorit penyeberangan ilegal:
Lamine Yamal dan Nico Williams adalah 2 pemain penting Timnas Spanyol dalam menjuarai Piala Dunia 2026. Lamine dan Nico berasal dari Afrika, tepatnya Maroko dan Ghana.
Keluarga Lamine dan Nico sama-sama masuk Spanyol dari Ceuta. Bahkan, ibunda Nico Williams diceritakan datang ke Spanyol melewati Gurun Sahara yang panas dengan berjalan kaki saat sedang hamil.
Baca Juga : Apakah Federico Barba Bek Terbaik Liga Indonesia Sepanjang Masa?
Ceuta bukan kali pertama menghadapi lonjakan besar migran. Pada Mei 2021, sekitar delapan ribu migran tercatat memasuki Ceuta hanya dalam dua hari akibat pelonggaran penjagaan di sisi Maroko, memicu ketegangan diplomatik antara Madrid dan Rabat kala itu.
Krisis serupa kembali terjadi pada akhir Juli 2026, ketika puluhan ribu migran, sebagian besar pria muda, namun juga mencakup perempuan, anak-anak, dan bayi—berusaha menyeberang secara bersamaan dengan cara berenang maupun menerobos pagar perbatasan. Insiden ini menyebabkan puluhan korban jiwa akibat berdesakan dan tenggelam, sehingga pemerintah Spanyol terpaksa mengerahkan pasukan militer untuk mengamankan perbatasan.
Status Ceuta sebagai kota kantong Spanyol di benua Afrika bukanlah kebetulan sejarah, melainkan hasil dari rangkaian penaklukan panjang sejak era Portugis pada 1415 hingga peralihan ke tangan Spanyol pada 1580. Lokasinya yang unik di titik temu dua benua inilah yang kini menjadikan Ceuta salah satu simbol paling nyata dari kompleksitas krisis migrasi antara Afrika dan Eropa, sekaligus pengingat bahwa sejarah kolonial masa lalu masih terus membentuk dinamika geopolitik hingga hari ini.