
FC Seoul harus menelan pil pahit di laga perdana Grup E AFC Champions League Two (ACL 2) 2026/2027. Tim asal Korea Selatan itu takluk 0-1 dari Persib Bandung di kandang sendiri, Stadion Piala Dunia Seoul, Rabu (16/9/2026).
Kim Gi-dong dianggap meremehkan Maung Bandung dengan rencana menurunkan sejumlah pemain muda dari Osan High School di ajang ACL 2. Sosok yang jadi sorotan dalam drama ini adalah sang nakhoda, Kim Gi-dong.
Kim Gi-dong merupakan pelatih asal Korea Selatan berusia 54 tahun yang saat ini menukangi FC Seoul. Di bawah asuhannya, FC Seoul tampil impresif di kompetisi domestik K League 1 musim 2026/2027. Sebelum laga kontra Persib, timnya sukses menjaga posisi puncak klasemen dengan koleksi 62 poin dari 29 laga, unggul 15 poin atas rival terdekat, Ulsan HD FC. Performa gemilang di liga domestik inilah yang kemudian memengaruhi keputusan besar Kim Gi-dong menjelang laga ACL 2 melawan Persib.
Beberapa hari sebelum laga melawan Persib, Kim Gi-dong mengejutkan publik dengan mengumumkan rencana membagi skuad FC Seoul menjadi dua kelompok. Sebagian pemain utama akan difokuskan untuk kompetisi domestik K League 1, sementara laga ACL 2 melawan Persib dijadikan panggung bagi pemain muda dari Osan High School serta pemain yang selama ini minim menit bermain.
“Kami berencana membagi skuad menjadi dua. Para pemain muda dari Osan High School dan pemain yang selama ini belum mendapatkan kesempatan bermain akan tampil di ACL 2,” ujar Kim Gi-dong, dikutip dari Yonhap.
Osan High School sendiri merupakan bagian dari sistem pembinaan usia muda FC Seoul yang telah berjalan sejak 2012, dan dikenal sebagai akademi yang melahirkan pemain-pemain FC Seoul U-18.
Kim Gi-dong menegaskan keputusannya bukan dilandasi sikap meremehkan Persib Bandung. Menurutnya, langkah tersebut murni pertimbangan menjaga kondisi fisik para pemain inti yang baru saja tampil penuh 90 menit saat mengalahkan Jeonbuk Hyundai Motors 2-1 di K League 1 akhir pekan sebelumnya.
“Para pemain utama bermain penuh pada laga ini sehingga secara fisik kemungkinan akan mengalami masalah,” jelas pelatih berusia 54 tahun itu. Ia bahkan menyebut laga ACL 2 sebagai kesempatan emas bagi talenta muda FC Seoul untuk mendapatkan jam terbang di kompetisi level Asia.
Di sisi lain, pelatih Persib Bandung, Igor Tolic, tidak terpancing dengan kabar rotasi besar-besaran FC Seoul. Pelatih asal Kroasia itu tetap menurunkan skuad terbaiknya dan menganggap FC Seoul tetap sebagai tim yang berbahaya, siapa pun starting eleven yang diturunkan. “Saya menganggap mereka tim yang mengenakan seragam yang sama. Saya percaya para pemain di lapangan mewakili tim tersebut,” tegas Tolic sebelum pertandingan.
Keseriusan Persib pun terbukti sejak menit-menit awal. Baru berjalan lima menit, bek Julio Cesar sukses menjebol gawang FC Seoul memanfaatkan umpan sepak pojok Marc Klok. Gol tunggal itu bertahan hingga peluit panjang dibunyikan, memastikan kemenangan 1-0 bagi Persib Bandung sekaligus mengukir sejarah sebagai kemenangan pertama tim Indonesia di kandang klub K League 1.
Baca Juga : Profil SMA Osan, “Pabrik” Pemain Muda FC Seoul yang Melawan Persib di ACL 2
Kekalahan ini membuat FC Seoul harus puas berada di dasar klasemen sementara Grup E ACL 2, sementara Persib Bandung langsung memuncaki klasemen dengan modal tiga poin penuh. Meski Kim Gi-dong berdalih rotasi dilakukan demi kepentingan jangka panjang di K League 1, hasil minor di laga kandang ini tetap menjadi catatan kurang sedap bagi sang pelatih, terutama karena keputusannya sempat dianggap sebagai bentuk meremehkan lawan dari Asia Tenggara.
FC Seoul kini dituntut bangkit saat melawat ke markas Melbourne Victory pada matchday berikutnya, sementara nama Kim Gi-dong akan terus disorot terkait strategi rotasinya di ajang Asia musim ini.
Kisah Kim Gi-dong dan FC Seoul di ACL 2 2026/2027 menjadi pengingat bahwa meremehkan lawan, sekuat apa pun alasan taktisnya, bisa berbuah hasil pahit. Keputusan menurunkan pemain muda Osan High School demi menjaga kondisi pemain inti memang bisa dipahami dari sudut pandang manajemen kebugaran, namun kekalahan 0-1 dari Persib Bandung membuktikan bahwa kompetisi Asia tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan oleh tim sekelas juara bertahan K League 1 sekalipun.