
Perdebatan mengenai kapabilitas pundit sepak bola Indonesia dalam mengkritik taktik John Herdman menjadi topik menarik di tengah sorotan terhadap permainan Timnas Indonesia. Apalagi sampai mengajari John Herdman apakah harus memainkan 3 atau 4 bek.
Kalau kritik datang dari pundit di Eropa eks pemain top seperti Thierry Henry, Gary Neville, Gary Lineker, dll, Herdman masih bisa menerima karena mereka pernah merasakan sulitnya main di level top dunia. Hal ini tentu berbeda dengan pundit-pundit di Indonesia yang tak punya latar belakang sepak bola dan lisensi pro.
Terlepas dari klaim tersebut, perdebatan ini membuka pertanyaan penting: apakah seseorang harus memiliki lisensi pelatih atau pengalaman sebagai pemain profesional untuk bisa menganalisis taktik sepak bola?
John Herdman bukan mantan pemain sepak bola profesional. Ia memulai perjalanan kepelatihannya ketika berusia 17 tahun dan memperoleh kualifikasi kepelatihan pertamanya pada usia 18 tahun. Ia kemudian mendapatkan lisensi UEFA ketika berusia 20 tahun.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa Herdman membangun reputasinya melalui pendidikan kepelatihan, pengalaman di lapangan latihan, dan pekerjaan langsung bersama para pemain.
Herdman pernah menangani tim nasional putri Selandia Baru, tim nasional putri Kanada, tim nasional putra Kanada, hingga Toronto FC. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 setelah absen selama 36 tahun.
Rekam jejak tersebut membuat Herdman memiliki pengalaman praktis dalam menyusun strategi, mengembangkan pemain, dan mempersiapkan tim menghadapi pertandingan internasional.
Setelah juara FIFA ASEAN Cup 2026, John Herdman berbicara di banyak media beberapa taktik yang tidak pernah diungkap. Salah satunya adalah penentuan eksekutor penalti saat melawan Thailand.
Selain faktor teknis penalti, Herdman juga menganalisis cara jalan hingga detak jantung pemain saat akan mengambil eksekusi penalti. Detak jantung yang makin kencang menunjukkan pemain itu tegang dan nervous sehingga menjadi pertimbangan tim pelatih dalam penentuan eksekutor penalti.
Itulah kenapa Shayne Pattynama yang jarang menjadi starter tiba-tiba langsung jadi eksekutor penalti. Ternyata, Shayne dinilai punya mental dan tidak nervous yang kuat saat mengeksekusi penalti dengan data seperti detak jantung, dan lain-lain.
Dalam sepak bola, lisensi kepelatihan dan kemampuan menganalisis pertandingan merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak sepenuhnya sama.
Lisensi pelatih menunjukkan bahwa seseorang telah mengikuti pendidikan formal mengenai aspek-aspek kepelatihan sesuai jenjang sertifikasinya. Materinya dapat mencakup taktik, metodologi latihan, pengembangan pemain, manajemen tim, dan aspek lain yang dibutuhkan dalam pekerjaan seorang pelatih.
Sementara itu, pundit atau pengamat sepak bola memiliki tugas menjelaskan pertandingan kepada publik. Analisis mereka dapat bersumber dari pengalaman bermain, pengalaman melatih, pendidikan sepak bola, statistik, rekaman pertandingan, hingga pemahaman mengenai prinsip taktik.
Karena itu, tidak memiliki lisensi kepelatihan bukan berarti seseorang otomatis tidak mampu membaca permainan. Sebaliknya, memiliki lisensi juga tidak otomatis membuat setiap analisis seseorang selalu benar.
Yang seharusnya menjadi tolok ukur adalah kualitas argumen, pemahaman terhadap situasi pertandingan, serta kemampuan menjelaskan mengapa sebuah strategi berhasil atau gagal.
Baca Juga : Tak Ada Arak-arakan Usai Timnas Indonesia Juara, Pemain Langsung Balik ke Eropa
Pelatih profesional sekalipun tidak kebal terhadap kritik. Keputusan menentukan formasi, memilih pemain, melakukan pergantian, atau mengubah pendekatan saat pertandingan berlangsung merupakan bagian dari pekerjaan yang wajar dianalisis oleh publik.
Herdman sendiri dikenal memiliki pendekatan taktik yang fleksibel. Ketika menangani Timnas Indonesia, ia pernah menggunakan sistem tiga bek dan memberi kebebasan kepada pemain untuk mengisi posisi berbeda sesuai kebutuhan permainan.
Pendekatan tersebut dapat dinilai melalui pertandingan konkret, misalnya apakah tim mampu menguasai ruang tengah, menciptakan peluang, mempertahankan keunggulan, atau menyesuaikan strategi ketika lawan mengubah pola permainan.
Pundit yang memberikan kritik seharusnya menjelaskan indikator tersebut, bukan sekadar menyebut sebuah formasi buruk tanpa memberikan alasan teknis. Sebaliknya, pendukung Herdman juga perlu menilai kinerja berdasarkan bukti pertandingan, bukan semata-mata reputasi internasional sang pelatih.
Perdebatan mengenai Herdman dan pundit sepak bola pada akhirnya berkaitan dengan standar diskusi sepak bola di Indonesia.
Pengalaman sebagai pemain profesional dapat memberikan wawasan tentang tekanan pertandingan, pengambilan keputusan, dan situasi yang sulit dipahami hanya melalui tayangan televisi. Pengalaman melatih juga memberikan pemahaman mengenai proses menerjemahkan gagasan taktik menjadi instruksi yang bisa dijalankan pemain.
Namun, analisis berbasis video, data, dan prinsip permainan juga dapat menghasilkan penilaian yang berkualitas apabila dilakukan secara mendalam.
Dengan demikian, perdebatan yang sehat bukanlah tentang siapa yang paling berhak berbicara, melainkan siapa yang mampu memberikan analisis paling masuk akal dan didukung bukti.
Kesimpulannya, rekam jejak John Herdman menunjukkan bahwa ia memiliki pendidikan kepelatihan dan pengalaman internasional yang panjang. Namun, hal itu tidak membuat taktiknya bebas dari kritik.
Pada saat yang sama, kritik terhadap Herdman juga harus didasarkan pada analisis yang jelas. Adapun klaim bahwa ia secara langsung mempertanyakan kapabilitas pundit Indonesia belum dapat dipastikan dari sumber tepercaya yang ditemukan.