
Argentina hari ini dikenal sebagai salah satu negara “paling putih” di Amerika Latin secara demografi. Namun sejarah mencatat hal yang sangat berbeda: pada abad ke-18, komunitas Afro-Argentina pernah menjadi bagian besar dari populasi negeri itu.
Riset sejarawan George Reid Andrews dalam buku The Afro-Argentines of Buenos Aires, 1800–1900 mengungkap bahwa warga kulit hitam sempat mengisi sepertiga populasi Argentina pada tahun 1800-an. Bagaimana kelompok besar ini bisa nyaris menghilang dari lanskap negara tersebut?
Sensus era kolonial tahun 1778 mencatat populasi Afro-Argentina di Buenos Aires mencapai 30–37 persen. Di wilayah pedalaman, angkanya bahkan lebih tinggi: Santiago del Estero 54 persen, Catamarca 52 persen, Salta 46 persen, dan Cordoba 44 persen. Mayoritas mereka dibawa paksa melalui perdagangan budak untuk bekerja di pelabuhan, bengkel, rumah-rumah elite kaum Criollo, hingga membangun infrastruktur kolonial.
Kontribusi terbesar komunitas Afro-Argentina justru datang saat perang kemerdekaan melawan Spanyol (1810–1818). Ribuan budak dijanjikan kebebasan bila bersedia bertempur di garis depan, dan resimen kulit hitam menjadi tulang punggung pasukan Jenderal San Martin. Namun harga yang dibayar sangat mahal: angka kematian yang luar biasa tinggi di kalangan pejuang Afro-Argentina.
Tragedi berulang saat Perang Aliansi Tiga melawan Paraguay (1864–1870). Kembali, resimen kulit hitam sengaja ditempatkan di garis depan sebagai “umpan meriam”, yang kian menghancurkan keseimbangan demografi komunitas ini.
Baca Juga : Selain Kiki Ramos, Siapa Pemain Keturunan Afrika di Timnas Argentina?
Belum pulih dari luka perang, wabah kolera dan demam kuning melanda Buenos Aires pada 1871. Permukiman miskin di kawasan San Telmo dan Monserrat — yang mayoritas dihuni warga Afro-Argentina, menjadi pusat kematian massal. Ribuan korban dikuburkan secara massal di pemakaman Chacarita, menyusutkan lebih jauh populasi komunitas yang sudah rapuh akibat perang.
Setelah perbudakan dihapuskan lewat Konstitusi 1853 dan dilarang total pada 1861, alih-alih membangun kembali komunitas Afro-Argentina, negara justru mengambil arah berbeda. Di bawah kepemimpinan tokoh seperti Presiden Domingo Faustino Sarmiento (1868–1874), Argentina secara sengaja membangun citra bangsa modern yang diasosiasikan dengan peradaban Eropa kulit putih. Kebijakan ini didukung tokoh seperti diplomat Juan Bautista Alberdi, yang mendorong program nation-building berbasis imigrasi Eropa besar-besaran sejak 1870-an.
Antara 1880 hingga 1920, Argentina menerima gelombang jutaan imigran Eropa. Kebijakan ini secara efektif “menenggelamkan” populasi Afro-Argentina yang tersisa, baik secara jumlah maupun secara kultural, warisan dan sejarah Afrika di Argentina banyak dihapus dari narasi resmi bangsa.
Karena populasi pria Afro-Argentina banyak berkurang akibat perang, perempuan Afro-Argentina semakin banyak menikah dengan imigran Eropa yang terus berdatangan. Dalam beberapa generasi, ciri fisik dan identitas keturunan mereka berbaur dengan populasi mayoritas, membuat jejak Afro-Argentina semakin sulit dikenali secara kasat mata.
Sejak dekade 2010-an, muncul indikasi kebangkitan kesadaran budaya Afro-Argentina. Organisasi akar rumput seperti Misibamba aktif menuntut pengakuan sejarah, mendorong nama-nama pahlawan kulit hitam dimasukkan kembali ke kurikulum pendidikan, serta merayakan identitas leluhur mereka lewat musik dan seni.
Sejarah inilah yang pada akhirnya menjelaskan mengapa representasi pemain kulit hitam di timnas sepak bola Argentina begitu minim hari ini, bukan soal seleksi olahraga, melainkan warisan dari serangkaian perang, wabah, dan kebijakan negara yang secara sistematis mengecilkan peran komunitas Afro-Argentina selama lebih dari satu abad.