
Pertanyaan soal kapan Liga Indonesia benar-benar pernah menjadi kompetisi terbaik di Asia Tenggara kerap muncul di kalangan pecinta sepak bola nasional, apalagi ketika membandingkannya dengan posisi Liga 1/Super League saat ini yang masih tertinggal dari negara-negara tetangga di ranking resmi AFC.
Jawabannya harus ditelusuri jauh ke belakang, tepatnya ke era Galatama pada pertengahan dekade 1980-an.
Momen paling bersejarah bagi sepak bola klub Indonesia di kancah Asia terjadi pada musim 1985/1986, saat klub Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) asal Palembang tampil di ajang Piala Champions Asia atau Asian Club Championship, cikal bakal Liga Champions Asia saat ini.
Setelah lolos dari kualifikasi zona ASEAN, KTB berhasil melaju hingga babak semifinal turnamen bergengsi tersebut di Jeddah, Arab Saudi. Meski akhirnya kalah dari klub Korea Selatan, Daewoo Royals, KTB bangkit di perebutan tempat ketiga dan berhasil mengalahkan wakil Suriah, Al-Ittihad Aleppo, dengan skor tipis.
Hasil ini membuat KTB tercatat sebagai juara ketiga Piala Champions Asia 1985/1986, sebuah rekor tertinggi klub Indonesia di level antarklub Asia yang bertahan hingga hari ini, belum ada satu pun klub Tanah Air yang mampu menyamainya.
Prestasi KTB tidak berhenti di situ. Klub ini juga menjadi juara Galatama dua musim beruntun (1985 dan 1986/1987) serta menjuarai ASEAN Club Championship pada 1987, menegaskan dominasi mereka tidak hanya di level nasional, tetapi juga di kawasan Asia Tenggara pada periode tersebut.
Selain KTB, sejumlah klub Galatama lain seperti Niac Mitra dan Pelita Jaya turut mengharumkan nama Indonesia di kompetisi Asia pada era yang sama, menjadikan akhir 1980-an sebagai periode ketika sepak bola klub Indonesia benar-benar disegani di kawasan regional.
Baca Juga : Apakah Federico Barba Bek Terbaik Liga Indonesia Sepanjang Masa?
Ada beberapa faktor yang membuat era Perserikatan dan Galatama mampu melahirkan kualitas kompetisi yang tinggi:
Jauh berbeda dengan romantisme era 1980-an, posisi Liga Indonesia di kancah regional maupun Asia saat ini justru berada di bawah bayang-bayang negara tetangga.
Berdasarkan ranking kompetisi klub AFC musim 2025/2026, Indonesia berhasil naik tujuh peringkat, lompatan tertinggi dibanding negara Asia lainnya, dari posisi 25 ke posisi 18, didorong oleh performa apik Persib Bandung di ACL Two dan Dewa United di ajang serupa.
Meski demikian, di level ASEAN, Liga Indonesia masih tertinggal dari sejumlah negara tetangga, dengan urutan sebagai berikut:
Ketertinggalan ini juga menjadi perhatian serius bagi PSSI. Ketua Umum PSSI Erick Thohir bahkan secara terbuka menargetkan agar Liga 1/Super League mampu menembus 12 besar Asia sekaligus masuk dua besar ASEAN, sebagai bagian dari agenda reformasi kompetisi domestik.
| Aspek | Era Galatama (1985–1987) | Era Sekarang (2025–2026) |
|---|---|---|
| Prestasi tertinggi Asia | Juara ketiga Piala Champions Asia (KTB, 1985/86) | Belum ada klub Indonesia menembus semifinal kompetisi elite Asia era modern |
| Status di ASEAN | Diperhitungkan sebagai kekuatan utama kawasan | Berada di posisi kelima dari lima liga besar ASEAN versi ranking AFC |
| Ranking AFC | Tidak ada sistem ranking resmi seperti sekarang | Peringkat 18 Asia, di bawah Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam |
| Ciri khas kompetisi | Dua ekosistem (Perserikatan & Galatama) saling melengkapi | Kompetisi tunggal terintegrasi (Super League), tengah dalam proses reformasi tata kelola |
Liga Indonesia pernah benar-benar disegani di kawasan Asia Tenggara, dengan puncaknya pada pertengahan dekade 1980-an lewat pencapaian legendaris Krama Yudha Tiga Berlian di Piala Champions Asia. Namun, empat dekade berselang, posisi kompetisi domestik justru tertinggal dari Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam di ranking resmi AFC.
Meski tren terbaru menunjukkan perbaikan signifikan berkat performa klub seperti Persib Bandung dan Dewa United di kompetisi Asia, jalan untuk kembali menjadi yang terbaik di ASEAN masih membutuhkan pembenahan menyeluruh, mulai dari tata kelola liga hingga daya saing klub di level internasional.