
Gelombang naturalisasi pemain keturunan yang masif dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari Shayne Pattynama, Jay Idzes, Ivar Jenner, Thom Haye, Ole Romeny, hingga Kevin Diks, memunculkan pertanyaan dari publik, bahkan anggota DPR RI: dari mana sebenarnya sumber dana untuk membiayai proses naturalisasi ini?
Pertanyaan ini secara langsung diajukan Anggota Komisi X DPR RI, Lita Machfud Arifin, dalam rapat kerja bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga dan PSSI di Senayan pada 4 November 2024. Lita menanyakan apakah ada nilai transfer dari klub ke PSSI, apakah anggaran diambil dari APBN lewat Kemenpora, atau berasal dari sponsorship privat.
Menjawab hal tersebut, Sekretaris Jenderal PSSI kala itu, Yunus Nusi, menegaskan bahwa PSSI tidak pernah mengeluarkan biaya atau membayar sepeser pun kepada para pemain yang menjalani proses naturalisasi. Menurutnya, konsep “membayar” pemain untuk mau dinaturalisasi tidak berlaku dalam skema PSSI.
Ia mencontohkan pemain seperti Shayne Pattynama, yang menurutnya justru didorong oleh keluarga dan kakek-neneknya sendiri untuk membela tanah leluhur mereka di Indonesia, bukan karena iming-iming finansial.
Meski tidak ada pembayaran ke pemain, bukan berarti proses naturalisasi sepenuhnya tanpa biaya. Ada dua jenis pengeluaran resmi yang berlaku:
Secara umum, proses naturalisasi pemain keturunan berjalan melalui beberapa tahap: PSSI melakukan diskusi akhir dengan Ketua Umum untuk menetapkan calon pemain, lalu mengirim surat permohonan resmi ke Kemenpora sekaligus menginformasikan perpindahan asosiasi pemain ke FIFA untuk proses cross check administratif.
Selanjutnya, Kemenpora mengajukan proses naturalisasi ke Kementerian Hukum dan HAM sesuai UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
Baca Juga : Profil Mitchell Baker Asli Keturunan Jogja-Semarang, Pelajaran Untuk FAM
Penting dicatat, pemain yang membela timnas, termasuk pemain naturalisasi, pada dasarnya tidak menerima gaji dari PSSI untuk laga-laga internasional, sesuai regulasi yang berlaku umum di sepak bola dunia. Penghasilan utama pemain tetap berasal dari kontrak klub masing-masing.
Fenomena ini pula yang sempat membuat media Vietnam, Soha.vn, menyoroti kemampuan Indonesia merekrut banyak pemain diaspora Eropa berkualitas tanpa perlu menawarkan insentif finansial besar,berbeda dengan asumsi umum bahwa naturalisasi selalu identik dengan transaksi uang dalam jumlah besar.
Berdasarkan keterangan resmi PSSI kepada DPR RI, biaya naturalisasi pemain keturunan Indonesia sepenuhnya ditanggung sebagai biaya administrasi negara sesuai tarif PNBP Kemenkumham, ditambah biaya operasional pengurusan internal PSSI, bukan pembayaran atau kompensasi finansial kepada pemain yang bersangkutan.
Motivasi para pemain untuk membela Timnas Indonesia, menurut PSSI, lebih didorong oleh ikatan emosional dan dorongan keluarga terhadap tanah leluhur mereka.