
Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran menjadi sorotan setelah melontarkan candaan “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi” ketika membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pernyataan itu menuai perhatian publik karena disampaikan saat Kalimantan Tengah masih menghadapi kebakaran lahan dan dampak kabut asap.
Agustiar bukan hanya dikenal sebagai politikus. Sebelum menjabat gubernur, ia juga pernah menjadi anggota DPR RI, pengusaha, tokoh adat, serta CEO klub sepak bola Kalteng Putra FC.
Latar belakangnya di dunia olahraga membuat profilnya menarik untuk ditelusuri di tengah kontroversi pernyataannya mengenai bencana lingkungan.
Pernyataan Agustiar menjadi perbincangan setelah beredar dalam video di media sosial pada awal Oktober 2026.
Saat menjelaskan penanganan karhutla, Agustiar menyebut bahwa kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia. Ia mengatakan hampir 97 persen kejadian tersebut berkaitan dengan aktivitas manusia.
Dalam penjelasannya, Agustiar kemudian melontarkan kalimat, “Cara mengatasinya dengan melawan. Karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.”
Ucapan tersebut dimaksudkan sebagai seloroh ketika membahas pentingnya kebersamaan. Namun, sejumlah warganet mempertanyakan kepantasan candaan itu karena disampaikan saat masyarakat menghadapi persoalan karhutla, kekeringan, dan kabut asap.
Pernyataan tersebut memunculkan beragam tanggapan di media sosial. Sebagian menyoroti gaya penyampaiannya, sementara persoalan utama yang dihadapi masyarakat tetap berkaitan dengan penanganan kebakaran dan dampaknya.
Kontroversi ini memperlihatkan besarnya perhatian publik terhadap komunikasi pejabat ketika masyarakat sedang menghadapi bencana. Dalam situasi seperti itu, pilihan kata seorang kepala daerah dapat menjadi bagian dari penilaian masyarakat terhadap cara pemerintah merespons persoalan yang terjadi.
Sorotan terhadap Agustiar muncul ketika angka kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah masih tinggi.
Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng per 7 Oktober 2026 yang dikutip Suara.com, tercatat 5.848 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 17.000 hektare. Data yang sama menyebutkan sebanyak 13.699 personel gabungan dikerahkan untuk mendukung penanganan kebakaran.
Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi pemerintah daerah. Karhutla bukan hanya persoalan api yang membakar lahan, tetapi juga asap yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan telah melakukan sejumlah langkah, termasuk pembangunan sumur bor untuk mendukung pemadaman serta menyediakan air bersih. Distribusi air bersih juga dilakukan untuk membantu warga menghadapi dampak kekeringan.
Di sisi lain, penanganan jangka panjang membutuhkan pencegahan pembakaran lahan, pengawasan wilayah rawan, penegakan hukum, dan koordinasi antarlembaga.
Karena itu, kritik terhadap komunikasi gubernur perlu ditempatkan bersama evaluasi terhadap hasil penanganan di lapangan. Pernyataan yang menjadi kontroversi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh upaya pemerintah gagal, tetapi pemerintah tetap perlu menjelaskan perkembangan penanganan dan perlindungan masyarakat secara transparan.
Baca Juga : Fakta 99% Pemain Sepakbola Dunia Gagal Masuk Klub Profesional
Agustiar Sabran lahir di Sampit, Kalimantan Tengah, pada 17 Agustus 1972. Ia merupakan kakak kandung Sugianto Sabran, yang pernah menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Tengah.
Sebelum terjun ke pemerintahan daerah, Agustiar membangun karier di bidang politik dan usaha. Ia menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah sejak 2019 hingga mengakhiri masa jabatannya pada September 2024.
Saat berada di parlemen, Agustiar pernah bertugas di Komisi III DPR RI yang membidangi urusan hukum, hak asasi manusia, dan keamanan. Ia juga memiliki pengalaman di organisasi kemasyarakatan dan adat Dayak.
Pada Pilkada Kalimantan Tengah 2024, Agustiar berpasangan dengan Edy Pratowo. Pasangan tersebut kemudian terpilih untuk memimpin provinsi itu pada periode 2025–2030. Agustiar resmi menjabat sebagai gubernur pada 20 Februari 2025.
Kariernya menunjukkan bahwa sebelum menjadi kepala daerah, Agustiar telah memiliki pengalaman di sejumlah bidang, mulai dari politik nasional hingga organisasi masyarakat.
Selain perjalanan politiknya, Agustiar juga dikenal dalam sepak bola Indonesia karena pernah menjabat sebagai CEO Kalteng Putra FC.
Kalteng Putra merupakan klub sepak bola yang mewakili Kalimantan Tengah dalam kompetisi nasional. Klub tersebut pernah tampil di Liga 1 Indonesia dan menjadi perhatian masyarakat daerah ketika berhasil menembus kasta tertinggi sepak bola nasional.
Pada masa kepemimpinan Agustiar, Kalteng Putra menjadi salah satu klub yang berupaya memperkuat posisinya dalam persaingan sepak bola Indonesia. Pengalaman tersebut menambah dimensi lain dari profil Agustiar, yang tidak hanya berkecimpung di pemerintahan dan politik.
Meski demikian, kepemimpinan klub sepak bola dan pemerintahan memiliki tanggung jawab yang berbeda. Sebagai gubernur, Agustiar harus memastikan kebijakan pemerintah daerah menjawab kebutuhan masyarakat secara luas, termasuk ketika menghadapi bencana lingkungan yang berdampak pada kesehatan dan aktivitas ekonomi warga.
Pengalaman di dunia olahraga juga tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kinerja pemerintahan. Kinerja kepala daerah perlu dilihat dari kebijakan, pelaksanaan program, transparansi, dan hasil yang dirasakan masyarakat.
Kontroversi ucapan Agustiar menunjukkan bahwa komunikasi pejabat publik menjadi penting ketika pemerintah sedang menangani krisis.
Dalam situasi karhutla, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai perkembangan kebakaran, daerah yang terdampak asap, langkah perlindungan kesehatan, serta upaya pemerintah untuk mencegah api meluas.
Candaan dalam konferensi pers atau wawancara tidak otomatis berarti seorang pejabat mengabaikan persoalan yang dibahas. Namun, ketika pernyataan tersebut dianggap tidak sejalan dengan keseriusan situasi, pemerintah perlu memastikan bahwa informasi substantif mengenai penanganan bencana tetap menjadi perhatian utama.
Agustiar dan pemerintah provinsi telah menyampaikan sejumlah langkah penanganan, termasuk pengerahan personel dan pembangunan sumur bor. Tantangan berikutnya adalah memastikan langkah tersebut efektif, menjangkau warga terdampak, dan disertai informasi perkembangan yang mudah dipahami masyarakat.
Dengan demikian, evaluasi terhadap kepemimpinan Agustiar sebaiknya tidak berhenti pada satu potongan video. Publik juga perlu menilai perkembangan luas kebakaran, kondisi kualitas udara, efektivitas penanganan, serta pertanggungjawaban pemerintah daerah.
Agustiar Sabran memiliki perjalanan karier yang mencakup dunia usaha, politik, organisasi adat, dan sepak bola sebagai mantan CEO Kalteng Putra FC. Namun, pada Oktober 2026, namanya menjadi sorotan karena candaan mengenai “bercerai kita kawin lagi” ketika membahas penanganan karhutla.
Kontroversi tersebut muncul di tengah besarnya tantangan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah. Data per 7 Oktober 2026 yang dikutip media mencatat lebih dari 17.000 hektare lahan terbakar.
Pada akhirnya, perhatian publik tidak hanya tertuju pada pilihan kata gubernur, tetapi juga pada kemampuan pemerintah melindungi warga dari dampak karhutla dan kabut asap. Komunikasi yang jelas, data yang transparan, serta hasil penanganan yang terukur menjadi unsur penting dalam mempertanggungjawabkan kepemimpinan daerah.